Soal HOTS Uji Kompetensi Asesor BAN-PDM 2026 – Komponen 1

Salam sejahtera bagi kita semua, Bapak/Ibu calon asesor dan rekan-rekan asesor akreditasi di mana pun berada.

Setelah seri latihan soal tingkat LOTS dan MOTS, kali ini saya hadirkan bagian yang paling menantang, yaitu 30 Soal HOTS Uji Kompetensi Asesor BAN-PDM Tahun 2026 untuk Komponen 1: Kinerja Pendidik dalam Mengelola Proses Pembelajaran yang Berpusat pada Peserta Didik.

Berbeda dengan seri sebelumnya, setiap soal di sini disajikan dalam bentuk narasi atau studi kasus. Situasinya sengaja dibuat mirip dengan yang sering kita temui di lapangan. Ada guru yang responsif tetapi belum menggali gagasan murid. Ada kesepakatan kelas yang terpasang rapi tetapi tidak dipahami murid. Ada modul ajar yang bagus di atas kertas tetapi tidak tampak dalam praktik di kelas. Bapak/Ibu tidak cukup hanya mengingat isi rubrik. Bapak/Ibu diajak menimbang data, membedakan level Kurang, Cukup Baik, Baik, dan Sangat Baik secara cermat, serta memutuskan langkah penggalian data yang tepat.

Soal-soal ini disusun berdasarkan:

  • Panduan Penjelasan IA 2024 Dasmen versi 2025
  • Manual Penggalian Data IA 2024
  • Mapping Teknik Penggalian Data pada Visitasi
  • Agenda Visitasi
  • Daftar Dokumen Bukti Teramati yang Harus Disediakan Satuan Pendidikan Tahun 2026

Cakupannya meliputi 16 indikator pada 4 butir Komponen 1, ditambah satu soal tentang cara memaknai rekapitulasi ketersediaan bukti.

Satu hal penting perlu saya sampaikan: pada banyak soal, ada pilihan jawaban yang levelnya benar tetapi alasannya keliru. Jawaban dianggap tepat hanya bila level dan alasannya sesuai rubrik. Karena itu, kerjakan dengan tenang. Baca stimulusnya sampai tuntas, lalu tanyakan pada diri sendiri: “Apa pembeda level ini dengan level di atasnya?”

Semua nama sekolah, guru, dan murid dalam soal ini fiktif. Kunci jawaban dan pembahasan ada di bagian akhir tulisan. Saran saya, kerjakan dulu seluruh soal sebelum melihat kunci, supaya latihan ini benar-benar mengukur kesiapan Bapak/Ibu.

Selamat berlatih!

Berikut terdapat 30 soal pilihan ganda HOTS berbasis studi kasus untuk Komponen 1 (Kinerja Pendidik dalam Mengelola Proses Pembelajaran yang Berpusat pada Peserta Didik), mencakup 16 indikator pada 4 butir, lengkap dengan kisi-kisi, kunci, dan pembahasan berbasis rubrik IA 2024.

Petunjuk

  • Bacalah setiap stimulus (narasi/studi kasus) dengan cermat. Semua nama sekolah, guru, dan murid dalam soal bersifat fiktif.
  • Setiap soal memiliki satu jawaban paling tepat. Beberapa pilihan memuat level rubrik yang benar tetapi dengan alasan yang keliru; jawaban dinilai benar hanya bila level dan alasannya tepat.
  • Rujukan penilaian: rubrik Kurang – Cukup Baik – Baik – Sangat Baik pada Manual Penggalian Data IA 2024, Panduan Penjelasan IA 2024 Dasmen versi 2025, Mapping Teknik Penggalian Data, Agenda Visitasi, dan Daftar Dokumen Bukti Teramati Komponen 1 Tahun 2026.
  • Level kognitif: C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), C6 (mencipta/merumuskan).

Soal Butir 1 – Dukungan Sosial Emosional (No. 1–8)

Soal 1 · Indikator 1.1.1 · C5

Saat visitasi di SMA Cendekia Nusantara, asesor mengobservasi pembelajaran Biologi kelas XI selama 20 menit. Bu Rina memberi kesempatan bertanya, dan empat murid bertanya atau berkomentar. Bu Rina menatap murid yang berbicara, mengangguk, lalu menjawab sesuai isi pertanyaan dengan jelas. Ketika Dimas memberi jawaban keliru, Bu Rina berkata, “Belum tepat, ya. Ada yang bisa membantu Dimas?” lalu melanjutkan diskusi. Bu Rina tidak menggali lebih jauh alasan atau gagasan di balik pertanyaan murid. Dalam wawancara, lima murid lintas kelas menyatakan nyaman bertanya dan merasa pertanyaannya dijawab.

Level indikator 1.1.1 yang paling tepat beserta alasannya adalah ….

  • A. Kurang, karena tanggapan kepada Dimas menunjukkan guru mengabaikan murid yang salah.
  • B. Sangat Baik, karena lebih dari tiga murid mendapat kesempatan bertanya dan murid merasa nyaman.
  • C. Baik, karena guru mendengarkan dengan saksama, menanggapi secara relevan, dan memberi kesempatan kepada tiga murid atau lebih, tetapi belum melakukan penggalian lebih lanjut.
  • D. Cukup Baik, karena guru terburu-buru menjawab tanpa memastikan pemahaman murid.
  • E. Belum dapat ditentukan, karena wawancara murid harus melibatkan minimal sepuluh orang.

Soal 2 · Indikator 1.1.1 · C4

Pada tahap pravisitasi, deskripsi kinerja SMA Harapan Mulia di Sispena menyatakan bahwa “seluruh guru membangun interaksi yang setara dan saling menghargai”. Bukti yang diunggah berupa video guru menyambut murid di gerbang sekolah (budaya 5S), foto kegiatan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), dan potongan halaman modul ajar. Asesor mengisi kolom “Data yang perlu dikumpulkan saat visitasi” pada Format 3.3.

Rumusan data yang paling tepat untuk memverifikasi klaim tersebut adalah ….

  • A. Meminta sekolah menambah video penyambutan murid dari hari yang berbeda agar bukti lebih kuat.
  • B. Mengobservasi PBM selama 20 menit dengan fokus pada cara guru merespons pertanyaan/komentar murid, lalu mewawancarai minimal lima murid lintas kelas tentang pengalaman merasa didengar dan dihargai.
  • C. Mewawancarai kepala sekolah tentang latar belakang dan anggaran program 5S.
  • D. Menelaah notulen rapat dewan guru tentang tata krama warga sekolah.
  • E. Mewawancarai orang tua/wali tentang keramahan guru saat penjemputan murid.

Soal 3 · Indikator 1.1.2 · C5

Asesor menelaah hasil kerja murid SMA Bhakti Pertiwi. Umpan balik guru umumnya berbunyi “Bagus, pertahankan!” atau “Nilaimu naik, semangat!”. Dalam wawancara bersama tiga guru (kategori A), Pak Hendra berkata, “Jujur saja, di kelas XI-7 ada beberapa anak yang memang kapasitasnya terbatas. Mau diapakan pun, hasilnya ya segitu-segitu saja.” Dua guru lainnya mengangguk dan menambahkan bahwa mereka “fokus pada anak yang bisa dikejar”.

Keputusan asesor yang paling tepat untuk indikator 1.1.2 adalah ….

  • A. Kurang, karena guru secara eksplisit menyampaikan kepada asesor bahwa ada murid yang sulit diharapkan meningkat kemampuannya, dan pandangan itu terkonfirmasi sebagai pola, bukan pendapat satu orang.
  • B. Cukup Baik, karena umpan balik guru sudah memuat penghargaan dan harapan umum.
  • C. Baik, karena umpan balik guru positif dan berorientasi pada peningkatan nilai.
  • D. Cukup Baik, karena pernyataan guru dalam wawancara bersifat pribadi sehingga tidak dihitung.
  • E. Belum dapat ditentukan sampai guru menarik kembali pernyataannya.

Soal 4 · Indikator 1.1.2 · C5

Saat observasi di SMA Cahaya Bangsa, Pak Yosef (Matematika) mendekati Nadia dan berkata, “Saya lihat kamu mencoba tiga cara berbeda sebelum menemukan jawabannya. Kegigihan seperti itu yang membuatmu berkembang.” Kalimat itu disampaikan kepada Nadia secara pribadi. Dalam wawancara, Pak Yosef menyampaikan bahwa murid yang nilainya rendah tetap bisa meningkat bila menerapkan strategi dan usaha yang tepat. Namun, ia tidak pernah menjelaskan kepada seluruh kelas mengapa suatu usaha pantas diapresiasi, dan tidak dapat menunjukkan praktik konkret yang sudah dilakukan untuk meyakinkan murid berprestasi rendah.

Level yang paling tepat adalah ….

  • A. Sangat Baik, karena umpan balik sudah spesifik menyebutkan usaha murid.
  • B. Cukup Baik, karena umpan balik masih berfokus pada hasil belajar.
  • C. Kurang, karena guru tidak menjelaskan apresiasi kepada seluruh kelas.
  • D. Baik, karena guru memberi apresiasi spesifik atas usaha dan meyakini murid berprestasi rendah dapat meningkat, tetapi belum menjelaskan kepada seluruh kelas maupun menunjukkan praktik konkret.
  • E. Sangat Baik, karena guru menyampaikan keyakinan pola pikir bertumbuh kepada asesor.

Soal 5 · Indikator 1.1.3 · C5

Di SMA Insan Mandiri, murid berkebutuhan khusus diidentifikasi dari data SPMB, laporan psikolog, dan pengamatan wali kelas. Selain itu, setiap guru mapel melakukan asesmen diagnostik kognitif di awal semester dan memetakan murid ke dalam tiga kelompok kebutuhan belajar. Untuk murid yang perlu dukungan ekstra, guru menyusun rencana pendampingan (tutor sebaya, LKPD bertingkat, kelas penguatan) bersama murid yang bersangkutan, lalu mengundang orang tua untuk menyepakati peran pendampingan di rumah. Notulen pertemuan dan lembar rencana tersedia, dan wawancara murid mengonfirmasinya.

Level indikator 1.1.3 yang paling tepat adalah ….

  • A. Baik, karena guru telah menggunakan pengamatan informal dan bertanya kepada pihak lain.
  • B. Cukup Baik, karena identifikasi masih bergantung pada laporan psikolog.
  • C. Baik, karena murid berkebutuhan khusus sudah teridentifikasi, tetapi pelibatan orang tua belum terlihat.
  • D. Kurang, karena belum semua guru memiliki sertifikat pendidikan inklusif.
  • E. Sangat Baik, karena identifikasi memadukan cara informal dan metode sistematis, mencakup murid di luar kebutuhan khusus, serta perencanaan dukungan melibatkan murid dan orang tua.

Soal 6 · Indikator 1.1.3 · C4

Pada Daftar Dokumen Bukti Teramati, keempat bukti indikator 1.1.3 (KSP, modul ajar dengan PSE dan teknik STOP, deskripsi kinerja, jurnal harian guru) dicentang “Ada”. Deskripsi kinerja menyatakan “orang tua selalu dilibatkan dalam pendampingan murid”. Namun, dari enam murid lintas kelas yang diwawancarai, lima tidak mengetahui adanya program pendampingan, dan tidak seorang pun pernah mendengar orang tuanya diundang membahas kebutuhan belajarnya.

Analisis asesor yang paling tepat adalah ….

  • A. Data wawancara murid dikesampingkan karena dokumen telah lengkap dan ditandatangani kepala sekolah.
  • B. Terdapat ketidaksesuaian pada subindikator pelibatan murid dan orang tua/wali; asesor menggali lebih lanjut melalui wawancara guru dan bukti komunikasi (buku penghubung, notulen, pesan), dan tidak menetapkan Sangat Baik selama pelibatan itu tidak terkonfirmasi.
  • C. Indikator langsung ditetapkan Kurang karena sekolah terbukti memberikan deskripsi kinerja yang tidak jujur.
  • D. Asesor meminta sekolah membuat surat pernyataan bahwa orang tua telah dilibatkan.
  • E. Asesor menambah jumlah murid yang diwawancarai sampai diperoleh jawaban yang sesuai dengan deskripsi kinerja.

Soal 7 · Indikator 1.1.4 · C5

Saat observasi Fisika kelas X, Raka meletakkan pulpennya dan berkata keras, “Susah, Bu! Saya nggak ngerti dari tadi.” Bu Melati mendekat, menepuk bahunya, dan berkata, “Tidak apa-apa, Raka. Nanti juga lama-lama bisa,” kemudian kembali menjelaskan materi di depan kelas. Dalam wawancara, guru menyampaikan bahwa sesekali ia menanyakan perasaan murid di awal pelajaran, tetapi tidak rutin. Murid menyatakan guru “baik dan perhatian”, tetapi masalah belajar biasanya diselesaikan sendiri.

Level indikator 1.1.4 yang paling tepat adalah ….

  • A. Cukup Baik, karena guru menunjukkan simpati dan mulai menggali emosi murid secara tidak sistematis, tetapi belum memahami akar masalah dan belum menindaklanjuti dengan dukungan nyata.
  • B. Baik, karena guru menunjukkan simpati secara langsung dan murid menilai guru perhatian.
  • C. Kurang, karena guru tidak menegur Raka yang berbicara keras di kelas.
  • D. Sangat Baik, karena guru menanyakan perasaan murid di awal pelajaran.
  • E. Kurang, karena guru belum memiliki modul PSE tertulis.

Soal 8 · Indikator 1.1.4 · C4

Pada tahap pravisitasi, asesor menelaah 30 hasil kerja murid dan rapor SMA Karya Utama. Umpan balik pada hasil kerja dominan berupa skor dan catatan “kurang teliti”, “belajar lagi”, atau “perbaiki”. Deskripsi rapor hampir seragam untuk semua murid.

Inferensi yang paling sahih untuk asesor adalah ….

  • A. Indikator 1.1.4 langsung ditetapkan Kurang karena dokumen sudah cukup membuktikan.
  • B. Indikator 1.1.4 dinilai Sangat Baik karena semua hasil kerja memiliki umpan balik tertulis.
  • C. Dokumen diabaikan karena indikator 1.1.4 hanya digali melalui observasi.
  • D. Dokumen mengindikasikan umpan balik masih berorientasi hasil dan belum mendukung pengelolaan emosi serta kemandirian murid; temuan ini menjadi dugaan yang harus dikonfirmasi melalui observasi PBM serta wawancara guru dan murid sebelum level ditetapkan.
  • E. Level ditentukan dari rata-rata skor hasil kerja murid.

Soal Butir 2 – Pengelolaan Kelas (No. 9–14)

Soal 9 · Indikator 1.2.1 · C5

Di seluruh 12 rombel SMA Pelita Ilmu terpasang poster kesepakatan kelas dengan isi dan desain yang identik, dicetak oleh tata usaha, dan ditandatangani wali kelas. Saat diwawancarai, murid menjawab, “Itu dari wali kelas, Pak. Kami tinggal tanda tangan.” Sebagian besar murid tidak dapat menyebutkan isi kesepakatan tersebut.

Level indikator 1.2.1 yang paling tepat adalah ….

  • A. Kurang, karena kesepakatan kelas tidak dibuat oleh murid.
  • B. Baik, karena kesepakatan kelas ada di semua kelas dan ditandatangani murid.
  • C. Cukup Baik, karena kesepakatan kelas ada, tetapi penyusunannya tidak melibatkan murid sehingga murid kurang memahami pentingnya isi kesepakatan.
  • D. Sangat Baik, karena keseragaman menunjukkan konsistensi sekolah.
  • E. Baik, karena tanda tangan murid merupakan bentuk pelibatan.

Soal 10 · Indikator 1.2.1 · C5

Di kelas XI-2 SMA Tunas Harapan, kesepakatan kelas disusun melalui diskusi kelas di awal semester; foto dan lembar curah pendapat murid tersedia. Saat observasi, seorang murid memotong pembicaraan temannya, lalu dua murid lain mengingatkan sambil menunjuk poin “saling mendengarkan” pada poster. Dari lima murid yang diwawancarai, empat dapat menjelaskan alasan tiap poin dan menyatakan bahwa kesepakatan itu “aturan kami sendiri”.

Level yang paling tepat adalah ….

  • A. Baik, karena pelibatan murid baru terbukti dari foto penyusunan.
  • B. Cukup Baik, karena masih ada murid yang melanggar kesepakatan.
  • C. Baik, karena satu dari lima murid belum dapat menjelaskan alasan tiap poin.
  • D. Kurang, karena guru tidak menegur murid yang melanggar.
  • E. Sangat Baik, karena kesepakatan disusun dengan pelibatan bermakna sehingga sebagian besar murid memahami pentingnya dan secara sukarela menegakkannya.

Soal 11 · Indikator 1.2.2 · C5

Seorang murid terlambat masuk dan belum mengerjakan tugas. Dengan nada tenang, guru berkata, “Silakan tulis surat pernyataan setelah jam ini. Nilai tugasmu dikurangi 10 poin, dan kalau terulang, orang tuamu akan saya panggil.” Guru tidak menjelaskan dampak perilaku tersebut terhadap proses belajar murid maupun kelas. Tidak ada kata kasar ataupun hukuman fisik.

Level indikator 1.2.2 yang paling tepat adalah ….

  • A. Baik, karena guru menegur dengan bahasa sopan dan tanpa hukuman fisik.
  • B. Cukup Baik, karena guru mengandalkan teguran sopan dan ancaman nonfisik tanpa penjelasan dampak negatif perilaku, dengan sanksi yang tidak relevan dengan dampaknya.
  • C. Kurang, karena pemanggilan orang tua termasuk tindakan intimidasi.
  • D. Sangat Baik, karena guru tetap tenang dan tidak emosional.
  • E. Baik, karena sanksi pengurangan nilai relevan dengan tugas yang tidak dikerjakan.

Soal 12 · Indikator 1.2.2 · C5

Saat observasi di SMA Mutiara Bangsa, dua murid berselisih dalam diskusi kelompok. Guru menghentikan diskusi sejenak, lalu setelah kelas mengajak keduanya berbicara: apa yang terjadi, bagaimana dampaknya bagi kelompok, dan apa usulan mereka untuk memperbaikinya. Tidak ada ancaman sanksi. Wawancara murid lintas kelas mengonfirmasi bahwa sebagian besar guru menangani pelanggaran dengan cara serupa. Di sisi lain, tata tertib sekolah masih memuat sistem poin pelanggaran.

Keputusan yang paling tepat adalah ….

  • A. Sangat Baik, karena praktik guru yang teramati dan terkonfirmasi lintas sumber menunjukkan dialog reflektif tanpa ancaman; keberadaan sistem poin dicatat sebagai bahan rekomendasi, bukan penentu level.
  • B. Baik, karena tata tertib masih memuat sanksi sehingga guru dianggap masih menggunakan ancaman.
  • C. Cukup Baik, karena hanya satu peristiwa yang teramati.
  • D. Kurang, karena sistem poin bertentangan dengan disiplin positif.
  • E. Sangat Baik, karena tata tertib sekolah sudah tertulis dengan lengkap.

Soal 13 · Indikator 1.2.3 · C5

Selama 20 menit observasi, antara menit ke-8 dan ke-15 (sekitar 7 menit), empat murid di bangku belakang mengobrol dan bermain gim di ponsel. Dua murid di dekat mereka sempat menoleh dan terganggu, tetapi kemudian kembali mengerjakan LKPD. Murid lainnya aktif bekerja dalam kelompok.

Level indikator 1.2.3 yang paling tepat adalah ….

  • A. Baik, karena sebagian besar murid tetap aktif bekerja.
  • B. Kurang, karena ada murid yang menggunakan ponsel di kelas.
  • C. Sangat Baik, karena pembelajaran berbasis kelompok sudah berjalan.
  • D. Cukup Baik, karena ada kegiatan nonpembelajaran yang berlangsung kurang dari 10 menit dan sempat mendistraksi murid lain, meskipun mereka masih dapat melanjutkan belajar.
  • E. Baik, karena gangguan berlangsung kurang dari 10 menit.

Soal 14 · Indikator 1.2.3 · C5

Untuk indikator 1.2.3, SMA Bina Karya menyiapkan program pembiasaan literasi 15 menit, dokumen kegiatan pembiasaan, poster anti-bullying di setiap kelas, dan jadwal pelajaran.

Bukti yang paling menentukan dalam menetapkan level indikator ini adalah ….

  • A. Poster anti-bullying, karena menunjukkan kelas yang aman dari gangguan.
  • B. Program pembiasaan literasi, karena menunjukkan waktu belajar dimanfaatkan.
  • C. Hasil observasi PBM tentang keterlibatan murid dan durasi distraksi, dilengkapi wawancara guru tentang strategi pembelajaran aktif yang digunakan untuk menjaga konsentrasi.
  • D. Jadwal pelajaran, karena menunjukkan alokasi waktu belajar yang memadai.
  • E. Dokumen kegiatan pembiasaan, karena memuat daftar hadir murid.

Soal Butir 3 – Proses Pembelajaran Efektif dan Bermakna (No. 15–24)

Soal 15 · Indikator 1.3.1 · C5

Modul ajar Bu Sari (Bahasa Indonesia) memuat tujuan pembelajaran, kegiatan, dan asesmen. Tujuan pembelajarannya diturunkan dari ATP yang disepakati MGMP sekolah sebelum tahun ajaran. Dalam wawancara, ia menjelaskan secara logis keterkaitan kegiatan dengan tujuan, dan LKPD serta media sudah disiapkan. Namun, perumusan tujuan belum memanfaatkan data profil atau kebutuhan belajar murid, dan tujuan pembelajaran tidak disampaikan kepada murid.

Level indikator 1.3.1 yang paling tepat adalah ….

  • A. Sangat Baik, karena ketiga elemen esensial lengkap.
  • B. Cukup Baik, karena tujuan tidak disampaikan kepada murid.
  • C. Kurang, karena belum berbasis asesmen awal.
  • D. Cukup Baik, karena belum ada diferensiasi.
  • E. Baik, karena modul ajar memuat ketiga elemen esensial, tujuan diturunkan dari silabus/ATP sekolah, kegiatan dijelaskan secara logis, dan materi disiapkan, tetapi belum didasarkan pada kebutuhan belajar murid.

Soal 16 · Indikator 1.3.1 · C6

Pada tahap pravisitasi, asesor mendapati enam contoh modul ajar dari enam guru berbeda. Bagian identitasnya berbeda, tetapi bagian asesmen awal, kegiatan, dan diferensiasi identik kata per kata. Tujuan pembelajaran juga tidak tampak mengacu pada ATP sekolah.

Rumusan kolom “Data yang perlu dikumpulkan saat visitasi” (Format 3.3) yang paling tepat adalah ….

  • A. Meminta sekolah mengunggah ulang modul ajar yang berbeda untuk setiap guru.
  • B. Memverifikasi melalui wawancara guru kategori A (minimal tiga guru, mewakili guru lama dan baru) tentang proses penyusunan modul ajar, dasar perumusan tujuan (ATP/silabus sekolah), dan pemanfaatan data kebutuhan belajar; serta menelaah modul ajar dan bahan ajar yang benar-benar digunakan di kelas yang diobservasi.
  • C. Menetapkan Kurang sejak pravisitasi karena modul ajar terindikasi disalin.
  • D. Mewawancarai orang tua/wali tentang kualitas modul ajar.
  • E. Mengobservasi lingkungan sekolah untuk mencari bukti perencanaan.

Soal 17 · Indikator 1.3.2 · C5

Guru-guru SMA Prima Cendekia melaksanakan kuis dan exit ticket empat kali dalam satu periode belajar. Hasilnya dianalisis untuk mengelompokkan ulang murid dan mengulang materi yang belum dikuasai. Namun, hasil itu baru dikembalikan kepada murid dua sampai tiga minggu kemudian, hanya dalam bentuk angka.

Level indikator 1.3.2 yang paling tepat adalah ….

  • A. Baik, karena asesmen formatif dilakukan berkala dan hasilnya digunakan untuk menyesuaikan pembelajaran, tetapi belum disampaikan secara cepat dan informatif kepada murid.
  • B. Sangat Baik, karena hasil asesmen sudah dianalisis dan dikembalikan kepada murid.
  • C. Cukup Baik, karena hasil hanya berbentuk angka.
  • D. Kurang, karena keterlambatan pengembalian hasil berarti asesmen tidak berfungsi formatif.
  • E. Sangat Baik, karena dilakukan lebih dari tiga kali.

Soal 18 · Indikator 1.3.2 · C4

Untuk bukti “asesmen bervariasi, minimal tiga contoh bentuk asesmen disertai alasan pemilihan metode”, sekolah menyerahkan contoh kuis pilihan ganda, lembar observasi, dan rubrik presentasi, tanpa alasan pemilihan dan tanpa analisis hasil. Dalam wawancara, guru menyatakan, “Hasil kuis itu untuk mengisi nilai harian.”

Analisis yang paling tepat adalah ….

  • A. Indikator mencapai Sangat Baik karena tersedia tiga bentuk asesmen yang berbeda.
  • B. Indikator mencapai Baik karena bentuk asesmen sudah bervariasi.
  • C. Variasi bentuk belum membuktikan fungsi formatif; pembeda utama rubrik adalah penggunaan hasil untuk memperbaiki/menyesuaikan pembelajaran, sehingga selama penggunaan itu tidak terbukti, indikator belum dapat mencapai Baik.
  • D. Indikator tidak dapat dinilai karena alasan pemilihan metode tidak dilampirkan.
  • E. Indikator ditetapkan Kurang karena kuis pilihan ganda tidak tergolong asesmen formatif.

Soal 19 · Indikator 1.3.3 · C5

Dalam satu semester, guru SMA Lentera Ilmu melaksanakan tes tertulis lingkup materi sebanyak tiga kali dan sebuah proyek kelompok yang dipresentasikan. Proyek dinilai dengan rubrik yang mencakup penguasaan konten, kolaborasi, dan komunikasi. Kisi-kisi semua instrumen selaras dengan tujuan pembelajaran.

Level indikator 1.3.3 yang paling tepat adalah ….

  • A. Baik, karena metode yang digunakan lebih dari satu.
  • B. Cukup Baik, karena tes tertulis masih dominan.
  • C. Baik, karena dilaksanakan lebih dari satu kali.
  • D. Sangat Baik, karena memadukan dua metode atau lebih, termasuk asesmen otentik yang mengembangkan kompetensi nonkognitif, dilakukan lebih dari sekali, dengan instrumen yang sesuai tujuan pembelajaran.
  • E. Sangat Baik, karena murid mempresentasikan hasil proyek di depan kelas.

Soal 20 · Indikator 1.3.3 · C5

Daftar nilai kelas XII di SMA Dharma Karya memuat kolom UH-1, UH-2, UH-3, STS, dan SAS. Semuanya berupa tes tertulis pilihan ganda dan isian singkat. Telaah kisi-kisi menunjukkan butir soal sudah selaras dengan tujuan pembelajaran.

Level indikator 1.3.3 yang paling tepat adalah ….

  • A. Kurang, karena hanya menggunakan tes tertulis.
  • B. Baik, karena penilaian dilakukan lima kali.
  • C. Kurang, karena tidak ada asesmen otentik.
  • D. Baik, karena instrumen sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  • E. Cukup Baik, karena masih satu metode (tes tertulis), tetapi dilakukan lebih dari sekali dengan instrumen yang sesuai tujuan pembelajaran.

Soal 21 · Indikator 1.3.4 · C5

Rapor SMA Citra Bangsa memuat, untuk setiap mata pelajaran, uraian tentang tujuan pembelajaran yang sudah dikuasai dan yang masih perlu ditingkatkan. Rapor disusun berdasarkan rubrik serta analisis asesmen formatif dan sumatif. Saat pembagian rapor, wali kelas berdialog dengan orang tua selama 15 menit dan menyepakati rencana tindak lanjut. Murid tidak dilibatkan dalam refleksi diri maupun penyusunan rencana tindak lanjut.

Level indikator 1.3.4 yang paling tepat adalah ….

  • A. Baik, karena laporan cukup ekstensif, disusun secara sistematis, dan disampaikan secara dialogis kepada orang tua dengan rencana tindak lanjut, tetapi belum melibatkan murid dalam refleksi diri.
  • B. Sangat Baik, karena rapor memuat capaian yang sudah dan belum dikuasai.
  • C. Cukup Baik, karena dialog hanya berlangsung 15 menit.
  • D. Sangat Baik, karena orang tua terlibat dalam menyusun rencana tindak lanjut.
  • E. Cukup Baik, karena rapor masih memuat angka.

Soal 22 · Indikator 1.3.4 · C4

Asesor merencanakan penggalian data indikator 1.3.4 (hasil penilaian dilaporkan secara informatif). Berdasarkan Mapping Teknik Penggalian Data IA 2024 versi 2025, kombinasi sumber data yang paling tepat adalah ….

  • A. Observasi PBM dan wawancara minimal lima murid.
  • B. Wawancara murid dan observasi lingkungan sekolah.
  • C. Telaah dokumen dan wawancara murid saja.
  • D. Telaah dokumen (rapor, analisis hasil asesmen, dokumentasi pembagian rapor) serta wawancara kepala sekolah, guru kategori A, dan orang tua/wali.
  • E. Wawancara komite sekolah dan observasi pembagian rapor.

Soal 23 · Indikator 1.3.5 · C5

Pak Daniel (Ekonomi) secara eksplisit menyampaikan, “Kalian tidak perlu menghafal definisi; yang penting kalian bisa menganalisis.” Asesmennya berbasis kasus UMKM di Medan dengan soal yang mengukur penalaran tingkat tinggi. Dalam diskusi kelompok, murid mengaitkan konsep inflasi dengan naiknya harga cabai di pasar tradisional. Di akhir pelajaran, murid menulis refleksi tentang strategi berpikir yang mereka gunakan dan apa yang perlu diperbaiki.

Level indikator 1.3.5 yang paling tepat adalah ….

  • A. Baik, karena diskusi sudah mengaitkan materi dengan fenomena nyata.
  • B. Sangat Baik, karena guru menolak hafalan, menggunakan asesmen HOTS, berhasil memandu murid mengaitkan materi dengan fenomena nyata, dan melibatkan murid dalam refleksi proses serta hasil belajar.
  • C. Cukup Baik, karena masih ada konsep yang perlu dipahami murid.
  • D. Baik, karena guru menggunakan asesmen berbasis kasus.
  • E. Sangat Baik, karena topik yang dibahas bersifat lokal.

Soal 24 · Indikator 1.3.5 · C6

Modul ajar di SMA Nusa Indah dipenuhi pertanyaan pemantik dan sintaks pembelajaran berbasis proyek. Namun, dalam observasi, guru berceramah selama 15 menit sementara murid mencatat. Lima murid lintas kelas menyatakan, “Biasanya kami mencatat lalu menghafal untuk ulangan.” Telaah soal ulangan menunjukkan dominasi butir mengingat dan memahami (C1–C2).

Kesimpulan asesor yang paling tepat adalah ….

  • A. Baik, karena modul ajar dirancang untuk pembelajaran mendalam.
  • B. Nilai ditetapkan dari rata-rata kualitas dokumen dan kualitas praktik.
  • C. Level ditetapkan berdasarkan pola praktik yang terkonfirmasi lintas sumber (observasi, wawancara murid, telaah soal), bukan rancangan di dokumen; kesenjangan antara rancangan dan praktik dicatat sebagai temuan dan rekomendasi.
  • D. Asesor meminta guru mengulang pembelajaran sesuai modul ajar agar dapat diobservasi kembali.
  • E. Hasil observasi diabaikan karena 20 menit tidak mewakili keseluruhan pembelajaran.

Soal Butir 4 dan Rekapitulasi (No. 25–30)

Soal 25 · Indikator 1.4.1 · C5

Di SMA Negeri Sejahtera, pembelajaran agama menggunakan diskusi kasus dan refleksi, dan guru memberi contoh konkret perilaku berakhlak mulia. Sekolah juga menyelenggarakan kegiatan kokurikuler/ekstrakurikuler keagamaan (pesantren kilat, retret, bakti sosial). Namun, pembiasaan harian tidak konsisten: doa bersama hanya pada hari Senin, ruang ibadah kurang terawat, dan murid menyatakan tidak ada kebiasaan rutin lain.

Level indikator 1.4.1 yang paling tepat adalah ….

  • A. Sangat Baik, karena kegiatan keagamaan sudah beragam.
  • B. Cukup Baik, karena penguatan masih terbatas pada pelajaran agama.
  • C. Kurang, karena pembiasaan harian tidak berjalan.
  • D. Cukup Baik, karena doa bersama hanya dilakukan sekali seminggu.
  • E. Baik, karena upaya diperluas melalui kokurikuler/ekstrakurikuler dan praktik pengajaran mendorong pemahaman serta keterkaitan dengan akhlak, tetapi lingkungan dan pembiasaan belum menunjukkan konsistensi.

Soal 26 · Indikator 1.4.1 · C6

SMA swasta berciri khas keagamaan tertentu memiliki sekitar 15% murid yang menganut agama berbeda dari ciri khas yayasan. Rekan asesor mengusulkan agar penilaian 1.4.1 hanya didasarkan pada kegiatan keagamaan sesuai ciri khas yayasan.

Langkah penggalian data yang paling tepat adalah ….

  • A. Menggali apakah praktik pengajaran dan pembiasaan memfasilitasi setiap murid memaknai dan merefleksikan ajaran agama/kepercayaannya masing-masing (termasuk layanan pendidikan agama sesuai agama murid) serta pembiasaan akhlak yang inklusif, tanpa menilai ciri khas yayasan itu sendiri.
  • B. Menilai hanya kegiatan keagamaan sesuai ciri khas yayasan karena itu merupakan hak yayasan.
  • C. Menetapkan Kurang apabila sekolah tidak memiliki guru agama untuk setiap agama yang dianut murid.
  • D. Tidak menilai indikator 1.4.1 karena berpotensi menyinggung isu SARA.
  • E. Mewawancarai hanya murid yang seagama dengan ciri khas yayasan agar data konsisten.

Soal 27 · Indikator 1.4.2 · C5

Guru Sejarah di SMA Melati Deli memandu debat dan studi kasus tentang pelestarian Istana Maimun dan Masjid Raya Al-Mashun sebagai warisan Kesultanan Deli; murid menganalisis sumber dan beradu argumen. Sekolah juga rutin menyelenggarakan Festival Budaya Sumatera Utara, tetapi tema dan kegiatannya tidak dirancang terhubung dengan materi intrakurikuler. Dalam wawancara, murid menyatakan bangga terhadap kekayaan budaya daerah sebagai bagian dari identitas Indonesia.

Level indikator 1.4.2 yang paling tepat adalah ….

  • A. Sangat Baik, karena ada festival budaya rutin dan murid merasa bangga.
  • B. Cukup Baik, karena festival belum terhubung dengan intrakurikuler.
  • C. Kurang, karena tidak ada kunjungan lapangan.
  • D. Baik, karena guru menerapkan metode pembelajaran mendalam yang membangun identitas positif murid, tetapi kegiatan kokurikuler belum terhubung dengan intrakurikuler dan belum ada refleksi perbaikan rancangan.
  • E. Sangat Baik, karena debat merupakan metode pembelajaran mendalam.

Soal 28 · Rekapitulasi Komponen 1 · C6

Rekapitulasi Daftar Dokumen Bukti Teramati SMA Garuda Sakti menunjukkan 52 dari 56 bukti Komponen 1 tersedia (92,9%). Kepala sekolah menyampaikan kepada asesor, “Dengan ketersediaan setinggi ini, kami yakin hasil Komponen 1 kami sangat baik.”

Tanggapan asesor yang paling tepat adalah ….

  • A. Membenarkan, karena ketersediaan bukti di atas 90% setara dengan level Sangat Baik.
  • B. Menjelaskan bahwa persentase ketersediaan adalah alat verifikasi kesiapan dokumen, bukan dasar penetapan level; level setiap indikator ditentukan rubrik berdasarkan triangulasi telaah dokumen, observasi, dan wawancara, dan satu bukti dapat mendukung lebih dari satu indikator.
  • C. Menurunkan level karena empat bukti tidak tersedia.
  • D. Meminta sekolah melengkapi empat bukti yang kurang sebelum visitasi dilanjutkan.
  • E. Menghitung level dengan membagi persentase ketersediaan per butir dengan empat.

Soal 29 · Indikator 1.4.3 · C5

SMA Bintang Timur melaksanakan projek kokurikuler “Banjir di Kota Medan”. Guru menetapkan topik, langkah kerja, dan bentuk produk akhir (poster). Murid mengumpulkan data curah hujan dan kondisi drainase, lalu menganalisisnya mengikuti LKPD langkah demi langkah. Murid tidak dilibatkan dalam merancang kegiatan, refleksi, ataupun evaluasi.

Level indikator 1.4.3 yang paling tepat adalah ….

  • A. Baik, karena kegiatan dirancang untuk mengasah nalar dengan isu nyata.
  • B. Sangat Baik, karena isu yang diangkat kontekstual dengan lingkungan murid.
  • C. Cukup Baik, karena murid diberi kesempatan mengasah nalar dan memecahkan masalah, tetapi topik, proses, dan hasil akhir sepenuhnya ditentukan guru.
  • D. Kurang, karena produk akhir hanya berupa poster.
  • E. Baik, karena murid mengumpulkan dan menganalisis data sendiri.

Soal 30 · Indikator 1.4.4 · C5

KSP SMA Insan Cita secara eksplisit merumuskan profil lulusan “cakap literasi digital, religius, dan peduli lingkungan”. Profil ini terhubung dengan rancangan intrakurikuler (Informatika dan beberapa mapel), kokurikuler (projek bank sampah digital), dan ekstrakurikuler (robotik, KIR); dokumentasi tiap kegiatan tersedia. Orang tua yang diwawancarai mengetahui misi tersebut. Namun, metode pembelajaran mendalam yang menguatkan profil tersebut baru konsisten diterapkan pada sebagian mata pelajaran.

Level indikator 1.4.4 yang paling tepat adalah ….

  • A. Sangat Baik, karena ada kesinambungan intra-, ko-, dan ekstrakurikuler.
  • B. Cukup Baik, karena upaya masih insidental.
  • C. Sangat Baik, karena orang tua mengetahui misi sekolah.
  • D. Kurang, karena tidak semua mata pelajaran terlibat.
  • E. Baik, karena profil eksplisit dan kesinambungan intra-, ko-, dan ekstrakurikuler sudah terlihat, tetapi pembelajaran mendalam belum konsisten pada semua mata pelajaran yang relevan.

Demikian 30 soal HOTS untuk Komponen 1 ini saya bagikan. Jika masih ada soal yang dijawab keliru, jangan berkecil hati. Justru dari kekeliruan itulah kita belajar membaca rubrik dengan lebih jeli.

Pesan utama dari seluruh soal ini sederhana. Seorang asesor bukan sekadar pemeriksa kelengkapan dokumen. Asesor adalah instrumen utama dalam penggalian data. Kelengkapan bukti tidak sama dengan kualitas praktik. Rancangan di modul ajar baru bermakna bila benar-benar hidup di kelas. Kesimpulan pun harus lahir dari triangulasi telaah dokumen, observasi, dan wawancara, bukan dari kesan pertama. Dengan sikap itu, akreditasi tidak berhenti sebagai pemberian peringkat, tetapi menjadi cermin yang membantu sekolah bertumbuh.

Saya menyadari kumpulan soal ini masih jauh dari sempurna. Jika Bapak/Ibu memiliki masukan, menemukan pembahasan yang perlu diperdebatkan, atau ingin berbagi pengalaman visitasi, silakan tuliskan di kolom komentar. Diskusi kita akan memperkaya pemahaman bersama.

Nantikan seri berikutnya untuk komponen lainnya. Bagikan tulisan ini kepada rekan-rekan yang sedang mempersiapkan diri mengikuti Uji Kompetensi Asesor BAN-PDM 2026.

Salam mutu pendidikan!