Langkah demi langkah bagi guru untuk merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful
Kurikulum terus bergerak, dan salah satu perubahan besar yang kini dihadapi guru di Indonesia adalah pergeseran dari sekadar “menyelesaikan materi” menuju Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) — sebuah pendekatan yang menuntut peserta didik benar-benar memahami, bukan sekadar menghafal. Bagi banyak guru, pertanyaan pertama yang muncul biasanya sederhana: “Lalu bagaimana cara menyusun RPP-nya?”
Artikel ini akan mengupas tuntas, langkah demi langkah, bagaimana menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang benar-benar selaras dengan filosofi Pembelajaran Mendalam — mulai dari tahap persiapan hingga refleksi setelah RPP itu dipraktikkan di kelas.
Mengapa Pembelajaran Mendalam Berbeda?
Sebelum masuk ke langkah teknis, penting dipahami dulu enam prinsip yang menjadi ruh dari Pembelajaran Mendalam. Sebuah RPP baru bisa disebut “RPP Pembelajaran Mendalam” jika kegiatan di dalamnya benar-benar memuat:
- Mindful — pembelajaran yang membangun kesadaran penuh peserta didik atas apa dan mengapa mereka belajar
- Meaningful — pembelajaran yang bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata peserta didik
- Joyful — pembelajaran yang menyenangkan, bukan menakutkan atau membosankan
- Sociable — pembelajaran yang membangun interaksi sosial, bukan belajar sendiri-sendiri
- Impactful — pembelajaran yang berdampak nyata, terasa manfaatnya
- Iterative — pembelajaran yang memberi ruang untuk mengulang, memperbaiki, dan berkembang
Keenam prinsip inilah yang menjadi “alat ukur” ketika RPP nanti ditelaah — baik oleh guru sendiri (telaah mandiri) maupun oleh pengawas sekolah.
Satu hal yang perlu ditegaskan sejak awal: tidak ada format RPP yang baku dan wajib diikuti. Guru diberi kebebasan menyusun sistematikanya sendiri, selama RPP tersebut memunculkan tiga prinsip inti (mindful, meaningful, joyful) dan memberikan pengalaman belajar berupa memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan. Contoh-contoh RPP dari pemerintah sifatnya hanya inspirasi, bukan cetakan yang harus ditiru persis.
Tahap 1: Persiapan Sebelum Menulis RPP
Sebelum pena menyentuh kertas (atau kursor mengetik di layar), ada dua pekerjaan rumah yang harus diselesaikan lebih dulu.
Analisis Kebutuhan
Guru perlu memetakan tiga hal:
- Kondisi dan kebutuhan guru — kapabilitas, preferensi metode mengajar, dan tantangan yang dihadapi dalam menyampaikan materi.
- Kondisi dan kebutuhan murid — tingkat pemahaman, gaya belajar, serta potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.
- Ketersediaan sarana dan prasarana — apa yang tersedia di sekolah, sekaligus kreativitas guru dalam memanfaatkannya.
Analisis CP, TP, dan ATP
Setelah kebutuhan dipetakan, guru menganalisis:
- Capaian Pembelajaran (CP) yang menjadi acuan
- Tujuan Pembelajaran (TP) — dirumuskan dengan Kata Kerja Operasional (KKO) yang spesifik, terukur, dan dapat diamati, berdasarkan taksonomi berpikir (Bloom, SOLO, atau lainnya), serta mengarah pada pencapaian Dimensi Profil Lulusan (DPL)
- Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) — disusun logis dan sistematis, dari tujuan hingga asesmen
Tahap 2: Delapan Langkah Inti Penyusunan RPP
Setelah fondasi di atas siap, penyusunan RPP bisa mengikuti delapan langkah berikut.
Langkah 1 — Identitas
Bagian ini memuat data administratif: nama sekolah, guru, mata pelajaran, kelas/fase, semester, topik dan subtopik, jumlah jam pelajaran (JP), menit per JP, jumlah pertemuan, serta moda pembelajaran yang digunakan.
Langkah 2 — Identifikasi
Kenali dengan jelas siapa yang akan diajar dan apa yang akan diajarkan:
- Karakteristik peserta didik — usia, kesiapan belajar, gaya belajar, kebutuhan khusus
- Materi pembelajaran — ringkasan cakupan materi
- Dimensi Profil Lulusan (DPL) — sesuai Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025, istilah “Profil Pelajar Pancasila” kini digantikan dengan 8 Dimensi Profil Lulusan. Minimal dua dari delapan dimensi harus dicantumkan secara eksplisit.
- 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) — yang relevan dengan konteks pembelajaran
Langkah 3 — Desain Pembelajaran
Di sinilah kerangka besar pembelajaran dirancang:
- Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP)
- Kemungkinan keterkaitan lintas disiplin ilmu
- Praktik pedagogis yang dipilih (model, pendekatan, metode)
- Kemitraan pembelajaran — dengan peserta didik, orang tua, atau masyarakat/industri sekitar
- Lingkungan belajar dan pemanfaatan teknologi digital
Langkah 4 — Pengalaman Belajar (Kegiatan Pembelajaran)
Ini jantung dari RPP. Kegiatan pembelajaran disusun dalam lima fase, dan setiap fase membawa muatan prinsip Pembelajaran Mendalam yang berbeda:
| Fase | Fokus Kegiatan | Prinsip yang Ditekankan |
| Awal | Apersepsi, penyampaian tujuan pembelajaran, asesmen awal, pertanyaan pemantik | Berkesan, berkesadaran, bermakna |
| Inti – Memahami | Mengonstruksi pengetahuan baru | Berkesadaran, bermakna |
| Inti – Mengaplikasi | Menerapkan pengetahuan pada konteks nyata | Berkesadaran, bermakna |
| Inti – Merefleksi | Memaknai proses belajar yang baru dijalani | Berkesadaran, menggembirakan |
| Penutup | Simpulan dan rencana tindak lanjut | Berkesadaran |
Kegiatan pendahuluan idealnya memuat: apersepsi yang mengaitkan materi lama dengan materi baru, penyampaian tujuan pembelajaran, identifikasi kesiapan belajar murid (asesmen awal), dan pertanyaan pemantik yang memancing keaktifan murid.
Langkah 5 — Asesmen
Asesmen dalam RPP Pembelajaran Mendalam tidak berhenti di ulangan akhir saja, melainkan mencakup:
- Asesmen diagnostik/awal — mengetahui kesiapan belajar murid
- Asesmen formatif — menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri, bukan sekadar evaluasi terpisah
- Asesmen sumatif — dilengkapi instrumen dan rubrik penilaian yang jelas
- Penilaian diri dan penilaian antarpeserta didik — melatih murid untuk reflektif terhadap proses belajarnya sendiri
Langkah 6 — LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik)
LKPD dirancang selaras dengan fase “mengaplikasi” — memuat judul, tujuan, petunjuk pengerjaan, dan rangkaian kegiatan yang membimbing murid mempraktikkan pengetahuan yang baru dipahami.
Langkah 7 — Rubrik Penilaian
Setiap indikator penilaian dipetakan ke dalam level pencapaian yang jelas, misalnya: Baru Memulai → Berkembang → Cakap → Mahir. Rubrik semacam ini membuat penilaian lebih objektif dan mudah dipahami, baik oleh guru maupun murid.
Langkah 8 — Lampiran dan Finalisasi
Tahap terakhir dalam penyusunan adalah melengkapi RPP dengan lampiran pendukung: bahan ajar, media pembelajaran, instrumen asesmen, glosarium, dan daftar pustaka. Jangan lupa pertimbangkan pula pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam asesmen.
Tahap 3: Setelah RPP Selesai Ditulis
Menulis RPP bukan akhir dari proses. Ada tiga langkah lanjutan yang sering terlewat, padahal justru di sinilah kualitas RPP benar-benar diuji.
Telaah RPP
Gunakan instrumen telaah resmi (Instrumen Telaah RPP Pembelajaran Mendalam) untuk mengevaluasi RPP yang sudah disusun. Telaah bisa dilakukan sendiri (telaah mandiri) atau saling tukar RPP dengan rekan sejawat. Instrumen ini menilai tiga aspek besar:
- Komponen RPP — kelengkapan tujuan pembelajaran, DPL & 7 KAIH, sarana-prasarana, target peserta didik, model pembelajaran, materi, kegiatan, asesmen, refleksi, hingga pemanfaatan TIK
- Aspek Pembelajaran Mendalam — sejauh mana enam prinsip (mindful, meaningful, joyful, sociable, impactful, iterative) benar-benar hadir dalam kegiatan pembelajaran
- Aspek Kemitraan Pembelajaran — keterlibatan peserta didik, orang tua, dan masyarakat
Revisi dan Finalisasi
Hasil telaah menjadi dasar perbaikan sebelum RPP benar-benar dipraktikkan di depan kelas.
Refleksi Tindak Lanjut
Setelah RPP dipraktikkan, jangan lewatkan refleksi — baik refleksi untuk peserta didik maupun refleksi untuk guru sendiri, lengkap dengan rencana tindak lanjutnya. Inilah wujud nyata dari prinsip iterative: pembelajaran yang terus diperbaiki dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.
Penutup: RPP yang Hidup, Bukan Sekadar Dokumen Administratif
Menyusun RPP dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam sebenarnya bukan soal menambah beban administrasi guru, melainkan mengubah cara pandang: dari RPP sebagai dokumen yang harus “dilaporkan”, menjadi RPP sebagai peta perjalanan belajar yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh peserta didik.
Dengan mengikuti alur di atas — mulai dari analisis kebutuhan, delapan langkah inti penyusunan, hingga telaah dan refleksi — guru tidak hanya memenuhi tuntutan administratif, tetapi juga membangun kebiasaan merancang pembelajaran yang benar-benar mindful, meaningful, dan joyful bagi murid-muridnya.
Selamat menyusun RPP Pembelajaran Mendalam, dan selamat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna di kelas Anda.
